Friday, April 6, 2012

Belajar Sains itu Butuh Inspirasi


Tidak ada yang salah dengan pendidikan yang lebih mempersiapkan lulusannya untuk dapat terserap ke dunia kerja. Kita tidak bisa mengharapkan semua sarjana-sarjana lulusan Perguruan Tinggi terutama untuk bidang sains dan teknologi berubah menjadi wirausahawan, karena banyak sekali pekerjaan yang membutuhkan spesialisasi dan spesifikasi khusus. Pendidikan yang baik diharapkan dapat membuat mereka menjadi orang-orang yang brilian di bidangnya masing-masing. Yang menjadi masalah adalah ketika kita berada di SMU kita tidak mendapat cukup informasi dari pilihan-pilihan yang ada. Sehingga ketika ilmu yang dipelajari semasa kuliah dirasakan tidak sesuai dengan minat maka banyak sarjana yang banting stir menggeluti bidang lain yang lebih diminati. Ia telah membuang banyak waktu untuk sesuatu yang sebenarnya bisa disiapkan dari awal.

Menjadi spesialis di bidang sains memang perlu lebih dari sekedar mendengarkan guru dan membaca buku-buku pelajaran. Sayangnya, siswa-siswa di SMU umumnya menganggap pelajaran sains eksak (MIPA) sebagai sesuatu yang menakutkan, membosankan, dan memusingkan. Malas rasanya mata kita memandang deretan rumus dan angka-angka serta teori-teori yang tercetak pada buku. Namun pada akhirnya banyak yang menjatuhkan pilihannya ke jurusan IPA karena takut dianggap murid yang tidak cukup pintar. Ketidakpastian siswa akan minat dan dan kemampuannya inilah yang membuat banyak siswa jurusan IPA yang mengambil formulir IPC pada saat SPMB.

Marilyn King, seorang atlet panca lomba olimpiade (Revolution Learning, Keajaiban Pikiran, Kaifa) mengatakan bahwa untuk mencapai kesuksesan belajar dibutuhkan paduan antara minat/gairah, visi, dan aksi. Kegairahan untuk menguasai suatu ilmu akan membuat kita terfokus dalam menerima pelajaran dan menempuh banyak cara untuk memuaskan keingintahuan. Visi adalah pandangan yang lahir dari pemahaman menyeluruh mengenai ilmu yang bersangkutan yang meliputi tujuan, fungsi, dan penerapannya. Sedangkan aksi merupakan tindakan atau praktek-praktek yang telah didasari oleh ilmu tersebut.

Untuk membangkitkan minat yang benar dari siswa terhadap pelajaran eksak dibutuhkan metode yang dapat merangsang siswa pada aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik. Metode seperti ini tidak akan terpenuhi hanya dengan mengandalkan penyampaian oleh beberapa orang guru. Beberapa cara bisa ditawarkan, misalnya dengan memperkenalkan siswa kepada fasilitas yang memamerkan dan menerapkan hasil-hasil aplikasi iptek. Tontonan seperti kuis Galileo di SCTV atau Pesona Fisika di TVRI bisa sedikit membantu. Buku-buku sains ringan semisal Einstein Saja Tidak Tahu karya Robert L. Wolke yang mendeskripsikan ilmu-ilmu yang mendasari kejadian sehari-hari juga dapat memberikan gambaran lengkap tentang banyak hal. Perguruan Tinggi sebagai institusi yang lebih matang dan aplikatif juga dapat mengambil peran. Misalnya dengan membuat suatu wahana wisata iptek yang memamerkan hasil-hasil penelitian unggulannya yang notabene merupakan aplikasi mutakhir dari iptek.

Sebagai salah satu contoh, sejak tahun 1996 ITB telah mendirikan Sasana Budaya Ganesa yang diharapkan dapat menjadi pusat ilmu pengetahuan dan teknologi serta kebudayaan. Terletak di lantai 4 gedung tersebut terdapat sebuah galeri iptek yang berisi anjungan-anjungan sains yang merupakan gambaran dan aplikasi dari teori-teori dalam buku yang dapat dioperasikan oleh setiap pengunjungnya. Tepat disebelah ruangan tersebut terdapat teater kubah, yaitu sejenis bioskop modern yang memutarkan film-film dokumenter dengan layar berbentuk setengah bola yang merupakan atap dari tempat duduk penontonnya. Wahana ini sejak tahun 1997 dibuka untuk umum dan telah banyak dikunjungi terutama oleh pala pelajar dan praktisi pendidikan. Sayangnya, baik teater kubah maupun alat-alat sains di galeri iptek masih merupakan produk luar negeri yang sangat sulit proses pemeliharaannya. Padahal idealnya sarana seperti ini dijadikan ajang pameran produk-produk penelitian kampus semisal mobil mini buatan Teknik Mesin, alat dan metode fun lab ala Jurusan Kimia, atau robot-robot yang belum lama ini dipertandingkan di ABU Robocon 2004.

Sekolah-sekolah sebenarnya dapat juga memaksimalkan proses pentransferan sains melalui rangkaian praktikum yang inovatif dan berkualitas. Namun hanya sedikit saja sekolah-sekolah yang memiliki sarana dan prasarana untuk dapat menyelenggarakannya. Laboratorium standar lengkap dengan peralatan untuk bidang Fisika, Kimia, dan Biologi saja memerlukan biaya yang tidak sedikit. Apalagi untuk membangun lab yang dapat mengakomodasi kemajuan ilmu yang bersangkutan.

Beberapa dosen FMIPA ITB mempunyai gagasan bahwa apabila lab yang representatif tidak mungkin dibangun di seluruh sekolah, maka cukup membuat suatu sistem lab keliling yang bisa digunakan secara bergantian, bahkan dapat mencapai sekolah di tempat-tempat terpencil sekalipun. Maka sebagai awalan dibuatlah satu unit mobil lab lengkap dengan peralatan untuk praktikum Fisika, Kimia, dan Biologi, dengan modul-modul yang disesuaikan dengan kurikulum SMU. Praktikum dibimbing oleh guru lokal untuk masing-masing pelajaran yang sebelumnya telah ditraining, dan didampingi oleh asisten-asisten praktikum dari ITB. Hasil uji coba selama beberapa minggu di beberapa SMU daerah Indramayu dan Subang, menunjukkan tingginya tingkat antusiasme dan apresiasi dari siswa, walaupun dengan perencanaan yang belum terlalu matang.

Model mobil lab seperti ini merupakan sarana awal yang bisa dikembangkan lebih jauh, bukan hanya mengikuti kurikulum yang semakin baik, tetapi juga untuk disiplin ilmu lain yang penting untuk dikenalkan sejak dini. Modul-modul dibuat lebih kreatif, dimasukkan unsur fun dan aplikasi penelitian terbaru yang dipandu oleh mahasiswa-mahasiswa dari departemen yang bersangkutan. Dengan demikian kita bisa sedikit memberikan inspirasi untuk menumbuhkan minat. Inspirasi dan kegairahan seperti inilah yang membuat Thomas Edison menyatakan bahwa seumur hidupnya ia tidak pernah bekerja, yang ada hanyalah rentetan kesenangan. Mudah-mudahan nantinya akan lahir ilmuwan-ilmuwan berkelas perancang dan penemu, bukan hanya kuli teknologi apalagi sekedar para pengguna produk-produknya.

oleh Rudi Haryanto
dimuat di Harian Pikiran Rakyat 23 Juli 2004

No comments:

Post a Comment

Post a Comment