Friday, April 6, 2012

HATI-HATI MEMAKAI ANTIBIOTIK


Keberhasilan penisilin menanggulangi berbagai penyakit sejak Perang Dunia Ke-2 menjadi dasar penemuan berbagai macam antibiotik lain. Dunia kedokteran mempunyai kepercayaan yang besar terhadap antibiotik untuk selalu berhasil dalam membunuh kuman dan menyembuhkan penyakit infeksi. Kepercayaan yang berlebihan ditambah dengan kurangnya pengetahuan tentang penggunaan antibiotik secara spesifik telah mengakibatkan terjadinya penyimpangan penggunaan antibiotik yang populer dengan istilah misuse dan overuse.
            Antibiotik sesungguhnya tergolong obat keras. Karena terdiri dari banyak varian, pemberian antibiotik harus jelas dalam hal jenis penyakit (apakah disebabkan oleh bakteri), jenis antibiotik (penisilin atau Beta-laktam), cara pemberian (per oral, disuntikkan, atau dioleskan), waktu penggunaan (berapa kali sehari, sebelum atau sesudah makan) dan dosis yang diberikan (berapa tablet atau ml). Kesalahan dalam beberapa elemen di atas akan menimbulkan dampak negatif yang merugikan.
            Para peneliti dari Pusat Ilmu Kesehatan di Universitas Colorado, Denver (AS) menemukan bahwa pada tahun 1992, dari 28.700 pasien dewasa yang berobat ke dokter karena penyakit flu, sekitar 70% nya mendapat resep antibiotik. Padahal penyebab utama penyakit tersebut adalah virus. Sementara antibiotik adalah obat untuk melawan bakteri. Selain itu, majalah Medical Tribune News Service edisi September 1997 mencatat sekitar 12 juta resep antibiotik ternyata dibuat untuk mengobati virus penyebab ISPA.
            Pola menyimpang inilah yang akhirnya menimbulkan percepatan dan perluasan resistensi. Hal ini membuat para ahli kedokeran di AS sepakat untuk membuat pedoman dan mekanisme pengontrolan untuk setiap penggunaan antibiotik. Namun pola menyimpang ini telah menjadi masalah global negara-negara di dunia termasuk Indonesia. Bagaimanakah penggunaan antibiotik di Indonesia?.
            Peneliti Mikrobiologi Klinik FKUI/RSCM, Dr. Amin Soebandrio PhD mengatakan bahwa penggunaan antibiotik di Indonesia nyaris tanpa arahan. Banyak dokter memberikan antibiotik kepada pasien padahal penyakit yang diderita tidak memerlukan antibiotik. Tidak ada standar baku seperti Appropiate Antibiotic Therapy (AAT) seperti di negara-negara maju. Kurangnya pengetahuan dokter juga menjadi sebab pemberian antibiotik dengan dosis yang tidak tepat. Menurut Amin, dosis yang terlalu tinggi akan menyebabkan efek toksin, gangguan pada ginjal, tulang mudah keropos atau gigi mudah tanggal. Sedangkan dosis yang terlalu rendah akan menyebabkan bakteri menjadi resisten dan penyakit semakin sulit diobati. Ketika dokter sudah memberikan resep dengan benar, penyimpangan pemakaian antibiotik masih dapat terjadi karena pasien tidak mematuhi aturan dokter. Konsumsi antibiotik sering dihentikan karena merasa penyakit telah sembuh, padahal bakteri penyebab penyakit masih belum terbasmi secara tuntas dan sewaktu-waktu dapat menyebabkan penyakit yang lebih parah (karugrag).
            Penyakit yang sering ditemukan di Indonesia seperti Demam Berdarah menurut Amin tidak perlu diobati dengan antibiotik, melainkan dengan infus untuk menaikan trombosit dan obat penurun panas. Pemberian antibiotik baru dilakukan apabila virus dengue sudah menyerang paru-paru dan dikhawatirkan akan terjadi infeksi nosokomial.
            Penyakit lain yang sering diderita oleh masyarakat adalah flu. Flu atau influenza merupakan penyakit virus yang menyerang alat pernafasan atas. Flu harus dibedakan dari pilek biasa atau pilek alergi. Menurut Dr. Iwan Darmansjah Sp. F.K., flu maupun pilek tidak perlu diobati dengan antibiotik karena virus tidak mempan antibiotik. Antibiotik hanya dibutuhkan bila terdapat komplikasi infeksi dengan bakteri, dimana hal ini hanya terjadi sekitar 5% dari keseluruhan kasus. Ironisnya, menurut statistik hampir semua penderita yang berobat ke dokter diberi antibiotik.
            Flu sebenarnya hanya memerlukan pengobatan yang sederhana. Penderita harus beristirahat dan meninggalkan aktivitas yang menguras kondisi fisik. Bila disertai demam, maka perlu diberikan obat yang mengandung komponen demam seperti parasetamol atau ibuprofen. Untuk mengatasi hidung tersumbat diperlukan komponen pilek seperti efedrin, pseudo-efedrin atau fenil propanoalamin. Sedangkan bila disertai batuk, maka diperlukan komponen obat batuk seperti dekstrometorpan atau noskapin.

Resistensi

            Data medis terakhir menunjukkan adanya peningkatan yang mencemaskan dalam resistensi kuman di rumah sakit dengan Unit Perawatan Intensif (ICU) sebagai fokus utama. Sebagai contoh, resistensi bakteri Gram positif terutama jenis Staphylococcus aureus yang merupakan penyebab infeksi akut seperti pneumonia, bakteriemia, scalded skin syndrome, dan sindroma syok toksin. Resistensi juga terjadi pada bakteri Gram negatif ganas seperti Pseudomonas aeruginosa dan Escherichia coli. Berbagai bakteri resisten ini dapat menyebar ke tempat lain ketika pasien dipindahkan.
            Masalah lain yang ditimbulkan oleh penyimpangan penggunaan antibiotik adalah ikut terbunuhnya bakteri-bakteri baik yang dibutuhkan oleh tubuh. Apabila bakteri baik dalam usus terganggu, maka proses penyerapan makanan dalam usus tidak akan berjalan baik dan dapat menyebabkan diare. Sedangkan pada mulut akan menyebabkan sariawan. Beberapa penelitian dokter juga menunjukkan bahwa pemberian antibiotik untuk mengobati infeksi telinga pada anak-anak justru memperparah penyakit yang diderita, Jadi mulai sekarang, berhati-hatilah dalam memakai antibiotik.

oleh Rudi Haryanto

No comments:

Post a Comment